“A HOUSE IS NOT A HOME”

Nilai Puitis Sebuah Hunian

 

Bahasa Indonesia memiliki kekurangan dalam membicarakan masalah rumah. Pasalnya, baik house maupun home diartikan ke dalam Bahasa Indonesia melalui satu kata yang sama, ‘rumah’. Jika menafsirkan kata ‘rumah’ berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka arti kata ‘rumah’ mengacu pada arti yang sama dengan kata house, yakni sebagai bangunan tempat tinggal. Jika rumah hanyalah yang berbatas dinding dan atap, maka apakah makna kata home itu?

Gaston Bachelard, dalam bukunya The Poetics of Space, mendeskripsikan sisi puitis rumah sebagai sebuah sudut tempat manusia mengamankan diri dari dunia; bahwa manfaat utama sebuah rumah adalah melindungi ‘pemimpi’nya. Rumah adalah home ketika ia mengijinkan penghuninya berangan-angan dan berimajinasi. Mungkin hal inilah yang tidak dirasakan oleh penulis buku Istanbul, Orhan Pamuk, ketika masih menghuni apartemen keluarganya. Kota istanbul merupakan rumah yang indah bagi Pamuk, tempat mempinya menjadi seorang penulis lahir dan terwujud. Tetapi kesan yang berbeda muncul pada apartemen keluarga Pamuk yang dihuninya semasa kecil; yang didekorasi dengan piano yang tak pernah dimainkan, pajangan porselen yang terkunci rapat di dalam lemari kaca dan tak pernah disentuh, meja kerja yang tak pernah digunakan, dan perpustakaan dengan buku-buku yang tak pernah dibaca. Rumah seperti museum yang penuh peraturan dan tidak boleh bercela barang sedikit saja. “To my childish mind, these rooms were furnished not for the living but for the dead.” tulis Pamuk .

Sebaliknya, Peter Zumthor justru merasakan pengalaman ‘berada’ pada suatu rumah ketika mengunjungi rumah bibinya. Dalam Thinking Architecture, Ia menceritakan pengalaman berdialog dengan rumah tersebut bukan  melalui deskripsi arsitekturalnya; Ia tidak berbicara mengenai bentuk, gaya, skala, maupun ornamennya, tetapi justru menceritakan pengalamannya ketika menyentuh gagang pintu, melihat pantulan cahaya lembut, mendengar bunyi pintu kayu, menapaki tanah berkerikil, atau mencium bau cat minyak dari perabot di rumah bibinya. Itulah home bagi Zumthor, dan karakter home itulah yang dijadikan Zumthor sebagai patokan yang ideal dalam membuat karya arsitektur.

Menurut Bachelard, hal di atas merupakan sebuah fenomena dimana status rumah mengalamai perubahan dari tempat yang melindungi ‘pemimpi’, menjadi bagian dari ‘mimpi’ tersebut, atau level-up. Dan fenomena ini dapat terjadi hanya jika rumah tersebut memberikan ruang bagi penghuninya ‘bermimpi’ terlebih dahulu.  Fenomena level-up sebuah rumah terjadi bukan hanya karena Zumthor seorang arsitek, hal ini bisa dialami siapa saja dalam skala yang berbeda-beda. Sayangnya, fenomena ini ditekan keberadaannya oleh hunian modern yang tipikal ala riil estat. Hak manusia menciptakan sendiri naungannya dibatasi oleh nominal rupiah yang tidak murah. Hingga pada akhirnya fenomena ini muncul ke permukaan melalui media-media lain yang lebih subtil wujudnya.

Pada tahun 1948, seorang psikolog asal Amerika, John. N Buck (1906-1983), menuliskan sebuah metode evaluasi kepribadian melalui gambar tangan yang bernama House – Tree – Person Test (Tes H-T-P). Sesuai dengan namanya, tes ini mengharuskan subjek menggambar tiga objek esensial dalam kehidupan seseorang : sebuah rumah, pohon, dan manusia, sesuai dengan imajinasinya. Gambar ini dinilai sebagai proyeksi angan-angan dalam benak subjek yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kepribadian, tingkat emosi, kemampuan kognitif, cara berpikir, juga mendeteksi kerusakan saraf pada otak. Hal ini menunjukan bagaimana masing-masing orang, ketika dilepaskan dari realita hidupnya, memiliki mimpi mengenai sebuah dunia atau semesta idaman, berikut hunian dimana ia bisa merasa homy (kata sifat yang ada hanya menunjukan karakter rumah sebagai home, tidak ada kata sifat yang merujuk pada karakter rumah sebagai house).

Realita hidup berkota memang sanggup membelokkan mimpi seseorang. Siapa yang tidak mati jiwa pujangganya jika harus berhadapan dengan harga tanah yang luar biasa tinggi, biaya pembangunan, pajak properti, biaya perawatan, akses ke kantor, sekolah dan fasilitas publik, hingga resepsi sinyal dan jaringan internet, dan lain sebagainya. Tengok Witold Rybczynski, seorang arsitek, akademisi, dan penulis asal Kanada, yang demi mewujudkan cita-citanya membangun sebuah gubuk kapal pribadi harus menyusuri kota dalam radius 45 mil (jarak yang bersedia ditempuhnya) dari tempat tinggalnya di Montreal, sebab sadar tidak ada lahan yang cukup besar yang sanggup di belinya di kota. Pengalaman ini didapatkannya di era 1980an. Di Jakarta pada era ini, mungkin radius 45 mil dari kota masih belum cukup jauh untuk mencari lahan dengan harga yang lebih terjangkau. Kota mungkin tempat banyak orang mengejar mimpi dan kehidupan yang lebih baik, meskipun itu tidak selalu berarti hidup dalam naungan yang lebih baik.

Meski demikian, bukan berarti home tidak dapat hadir dalam hidup seseorang yang tinggal di tengah hingar bingar kota. Bagaimanapun, home lahir dari memori, dan memori ada melampaui batasan dinding dan atap. Nilai home bisa hadir pada sebuah rumah yang luasnya tak lebih dari 40m2, bisa juga absen dari rumah mewah yang luasnya ratusan meter persegi. Rumah dicintai sebagian karena fisiknya, sebagian lagi karena asosiasi positif antara rumah dengan penghuninya, begitu pula sebaliknya.

Rybczynski memandang hal ini dengan cara yang lebih ekstrim. Ketika ditanya apa yang ia maksud dengan judul pada bukunya, The Most Beautiful House in the World, ia menjawab, “yaitu rumah yang kita bangun untuk diri kita sendiri,” sebagaimana ia membangun gubuk kapal dengan tangannya sendiri. Bagi Rybczynski, proses membangun adalah proses menempatkan diri ke dalam sebuah tempat yang “aman untuk bermimpi”. Kuatnya asosiasi antara penghuni dan rumah yang dibangunnya adalah yang membuat rumah ini menjadi ‘rumah terindah’; menjadi sebuah home. Maka dari itu, rumah yang dirancang dan dibangun sendiri, meskipun hanya sebuah gubuk, akan selalu lebih menyentuh ketimbang rumah yang didirikan oleh orang lain, betapapun mewahnya.

"Together Under One Roof"
“Together Under One Roof” – Sumber : Rybczynski, Witold (1990). The Most Beautiful House in the World. Penguin Books. USA

Di jaman seperti sekarang ini, membangun rumah dengan tangan sendiri seperti yang dilakukan Rybczynski mungkin dipandang sebagai cita-cita naif, yang hanya mungkin dilakukan oleh penghuni gelap di atas lahan-lahan ilegal. Maka, waktu adalah sarana lain yang dapat menjadikan sebuah house menjadi home. Dalam buku Architecture of Happiness, Alain de Botton mendeskripsikan bagaimana sebuah rumah dapat tumbuh menjadi saksi yang maha-tahu, yang menyaksikan sebuah keluarga bertambah anggotanya, seorang anak tumbuh dewasa, dan keseharian kehidupan diantaranya. Sehingga bukan tidak mungkin rumah yang dibeli dari riil estat dapat menjadi sebuah home. Jika rumah tidak dapat dibangun dengan asosiasi diri yang kuat, maka berilah waktu untuk kita membuat memori baik di dalam rumah tersebut, satu demi satu, hingga sebuah house dapat tumbuh menjadi sebuah home pada waktunya.

“A room is still a room

Even when there’s nothing there but gloom

But a room is not a house

And a house is not a home

When the two of us are far apart

And one of us has a broken heart”

A House is not a Home

(Bacharach & David, 1964)

Maret, 2017

For this article in English

Advertisements

One thought on ““A HOUSE IS NOT A HOME”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s