Antara Arsitek dan Arsitekturnya

Arsitektur merupakan sebuah produk imajinasi. Ia lahir secara abstrak di dalam benak, dan diterjemahkan ke dalam sebentuk raga di luar badan. Seorang arsitek modernis asal Finlandia, Hugo Alvar Henrik Aalto (1898-1976) –atau yang lebih banyak dikenal sebagai Alvar Aalto –pernah mengungkapkan bahwa ide arsitektur tidak selalu lahir dalam bentuk yang jelas dan pasti; mereka muncul dalam gambaran buram, bahkan seringkali hanya berupa insting yang tidak berupa. Gambaran ini kemudian dikembangkan menjadi sesuatu yang konkrit melalui sketsa, diperjelas dan diperinci dalam gambar kerja, dibentuk menjadi materi melalui tangan-tangan manusia dan mesin, hingga pada akhirnya dialami dan bermanfaat bagi manusia dalam konteksnya. Dengan kata lain, arsitektur merupakan produk pengejawantahan ide dalam diri seseorang menjadi materi.
Sebuah karya arsitektur hidup pertama kali bukan ketika didirikan di atas bumi, atau ditintakan di atas kertas, melainkan ketika ia bernyala di dalam benak perancangnya sebagai sebuah ide. Perihal kelahiran sebuah karya arsitektur sebagai ide, arsitek Finlandia dari generasi berikutnya, Juhaani Pallasmaa, mengemukakan adanya dua imajinasi yang terjadi dalam proses tersebut;  imajinasi yang memproyeksikan gambaran geometris, dan yang memproyeksikan pengalaman sensori dan psikologis di dalam ruang geometris tersebut. Jika demikian, maka dalam proses yang kompleks ini, selain dibutuhkan ketepatan gambaran atau insting seperti yang diungkapkan Aalto, juga dibutuhkan kemampuan untuk memproyeksikan diri ke dalam ruang yang akan dibentuk, seolah-olah tubuh menjadi bagian dalam imajinasi tersebut.

Bagi pemahat pengejawantahan diri ini terjadi dengan lebih intim dan intens. Pasalnya, proses memahat sangat bergantung pada imajinasi dan kemampuan sang pemahat menerjemahkannya ke dalam  gerakan tangannya. Ketika tangannya tengah bekerja membentuk satu sisi dan matanya memandang setiap gurat yang dihasilkan tangannya, pikirannya bekerja secara tiga dimensi membayangkan bentuk tersebut dari segala arah berikut kelanjutannya. Raga sang pemahat menjadi bagian langsung dalam proses perwujudan karyanya. Ia bisa segera merasakan jika ada lekuk yang terlalu dalam, proporsi yang tidak tepat, atau sekedar permukaan yang terlalu kasar pada pahatannya. Kelekatan antara pemahat dengan karya yang dibentuknya membuat pengejawantahan diri yang terjadi sangat jujur dan apa adanya. Sehingga sangat mudah untuk mengetahui apakah sebuah karya pahatan dibuat oleh pemahat yang mahir atau amatir hanya dengan melihat dari kejujuran pekerjaannya.

3551_10
Sekitar abad ke-16, para pemahat yang melakukan beberapa kesalahan dalam pahatannya cenderung akan menambal dan menutupi kesalahan itu dengan lilin. Sedangkan patung yang dibuat dengan sempurna dan tanpa lilin dalam bahasa Latin disebut sine cera. Sine berarti ‘tanpa’ dan cera berarti ‘lilin’. Kata ini kemudian berkembang penggunaan dan konotasinya hingga disebut sebagai sincere dalam bahasa Inggris, yang artinya ‘tulus’ atau ‘jujur’. Maka, untuk mengetahui kualitas seorang pemahat dari karya yang dihasilkan sangatlah mudah, hanya perlu melihat seberapa ‘tanpa lilin’ kah ia dalam memahat.

 

 

Berbeda dengan pemahat, antara arsitek dengan karya arsitekturnya ada jarak yang cukup renggang. Ketika berkarya, arsitek tidak bersentuhan langsung dengan karyanya. Ia tidak akan tahu bagaimana rupa sesungguhnya bangunan tersebut hingga selesai dibangun; atau bagaimana manusia di dalamnya bereaksi terhadap ruang yang ia rancang hingga bangunan dapat dioperasikan. Arsitek bergantung pada kemampuan kedua imajinasinya seperti yang diungkapkan Pallasmaa.

Writers write, painters paint, and sculptors sculp. Nothing comes between them and and their medium. Composers make abstract signs that symbolize music, but they can at least whistle the melody. But when architect creates, it is always at one step removed. He builds, but not on the building site, not with bricks and mortar but with card and balsa wood, with modeling clay and wood blocks, in a make-believe universe of people three-quarters of an inch high,” ujar Witold Rybczynski, dalam bukunya The Most Beautiful House in the World. Rybczynski sebenarnya hendak menggambarkan bagaimana arsitektur –dalam praktek professional maupun pendidikan –adalah tentang permainan membangun; seprinsip dengan anak-anak yang membangun kastil dari balok mainan. Disebut ‘permainan’ karena arsitek tidak menyentuh karyanya sendiri, tetapi mengandalkan tangan-tangan lain untuk mewujudkan karyanya. Hal ini menunjukan bahwa yang dilakukan seorang arsitek adalah sebatas melakukan prediksi. Dalam setiap keputusan desain yang diambil, ia mengandalkan pengetahuannya untuk memprediksi apa yang mungkin terjadi. Termasuk memprediksi kemungkinan kesalahan ini dan itu terjadi kelak serta bagaimana cara ‘menambalkan lilin’ padanya. Dalam memprediksi masalah teknis, hal ini mungkin diantisipasi dengan bantuan studi preseden. Lalu bagaimana dengan prediksi isu-isu psikologis seperti ekspresi ruang, nilai puitis ruang, dan pengalaman-pengalaman sensori yang lebih mungkin terdeteksi setelah bangunan mulai digunakan? Mengenai pertanyaan ini, seorang sejarawan seni, Heinrich Wölfflin, dalam desertasi doktoralnya memberikan gambaran sebagai berikut :

Physical form posses a character only because we ourselves posses a body. If we were purely visual beings we would always be denied an aesthetic judgement of the physical world, but as human beings with a body that teaches us the nature of gravity, contraction, strength and so on, we gather the experience with the conditions of other forms.” – (Wölfflin, 1886)

Dari masa ke masa, arsitek telah berupaya melakukan prediksi ini sepresisi mungkin dengan meletakkan imajinasinya pada berbagai media visual, mulai dari gambar tangan, media digital, hingga miniatur. Arsitek berusaha mensimulasikan prediksinya sedekat mungkin dengan hasil akhirnya. Tetapi, sebagaimana dikatakan Wölfflin, pendekatan visual tidak akan pernah cukup untuk menciptakan sesuatu yang beraga. Andai kata simulasi ini dilakukan dengan membuat miniatur sekalipun, masih ada elemen skala dan pengalaman sensori yang dapat luput dari prediksi. Maka kemanakah arsitek harus berpegang dalam melakukan prediksi?

Jika seseorang harus melakukan prediksi terhadap ruang, maka prediksi tersebut akan datang dari memori akan pengalaman badaniah. Pengalaman-pengalaman inilah yang akan digunakan sebagai bank data ketika arsitek harus melakukan prediksi dalam rancangannya, yang mampu meningkatkan kualitas imajinasi dalam membangun ekspresi ruang. Dan untuk menarik data dari bank pengalaman menjadi sebuah karya arsitektur, Juhani Pallasmaa memberikan pandangan bahwa untuk mengejawantahkan ide, maka tubuh yang empunya ide adalah medium terbaik untuk mewujudkannya, sebagaimana pengalaman tersebut juga dialami dan direkam oleh tubuh. “The artist’s body becomes the work, and simultaneously, the work becomes the extension of his body,” ujar Pallasmaa.

Kerenggangan antara arsitek dan karyanya tidak memberikan opsi lain selain dari pada pemanfaatan tubuh sebagai media perancangan, seperti yang dilakukan pemahat, pelukis, maupun pemusik. Witold Rybczynski  yang mengkritisi hal ini dalam bukunya, mengambil tindakan untuk mengembalikan kedekatannya (sebagai arsitek sekaligus pemiliki) dengan bangunan melalui cara yang paling sulit; ia merancang, mencari material, dan membangun sendiri gubuk kapal yang lama  ia cita-citakan. Tetapi sejak membangun dengan tangan sendiri sudah bukan lagi bagian dari pekerjaan arsitek, maka cara yang paling umum adalah dengan merancang melalui sketsa, yang hari ini banyak diapandang setara dengan draft digital. Bedanya, ketika mensketsa, tangan bergerak sendiri menarik garis-garis dinding dan menggurat halus bayangan yang jatuh; tangan yang menggerakan pensil juga merasakan gesekan antara pensil dengan kertas; tangan bebas meliuk tanpa harus memikirkan derajat perputarannya; singkatnya, proses mensketsa memberikan pengalaman sensori yang tidak didapatkan ketika merancang dengan media digital. Menggambar dengan tangan membangun relasi yang lebih intim antara arsitek dengan karyanya karena melibatkan tubuh sebagai medium pengejawantahan ide. Dalam hal ini, kegigihan Aalto terbukti lewat 500 lebih sketsa tangannya yang kini dipamerkan di Alvar Aalto Museum, Helsinki. Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya berhasil dikembangkan ke ranah fisik menjadi bangunan bergaya Nordik modern (dan beberapa karya bergaya neo-klasik Nordik di awal karirnya) khas Aalto.

01_84-169

aalto_pb
Foto Villa Mairea, Finlandia
Sumber : http://www.archdaily.com

Merancang dengan sketsa merupakan hal yang lazim dilakukan arsitek pada masanya, namun tidak lantas menjadi suatu keharusan. Ada banyak media lain dapat digunakan diluar media dua dimensi; baik itu media tiga dimensi, maupun media dua dimensi yang diolah menjadi tiga dimensi. Masing-masing memiliki intensitas yang berbeda dalam mengejawantahkan ide  penggunanya; intensitas yang masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan merancang menggunakan tetikus yang membutuhkan sedikit koordinasi tubuh. Bahkan lelucon mengenai metode merancang Frank Gehry dalam film The Simpsons masih menggambarkan kualitas dan intensitas ini. Ketika Gehry melempar kertas dan ia terinspirasi membuat bangunan, secara arsitektural memang pertanggungjawabannya nampak meragukan, tetapi secara artistik hal tersebut sangat mungkin. Produk dari tindakan motorik yang dilakukan secara reflek bisa jadi merupakan manifestasi diri diluar sadar karena melibatkan kerja tubuh yang kompleks, meskipun hanya sekedar melempar kertas.

simpsons-gehry
Frank Gehry – The Simpsons

Sembari menuliskan artikel ini, saya jadi teringat akan sebuah sesi singkat di tahun ketiga saya kuliah, ketika seorang dosen mengatakan, “jangan kamu persingkat proses merancang dengan komputer karena merancang adalah proses seribu garis.” Seribu garis yang dimaksudkan Beliau tentu hanya kiasan, karena garis yang dibutuhkan bisa jadi lebih atau kurang dari seribu. Tetapi bukankah segala yang berproses memang memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan yang instan?

 

Telah diterbitkan di konteks.org pada 16 Mei 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s